Renaissance Epoche in deutschsprachigen Ländern

Era Renaissance yang dibahas ini menitikberatkan pada literatur di Jerman.

Renaissance merupakan suatu masa ketika orang-orang—khususnya di Eropa—mempunyai keinginan yang kuat untuk menghidupkan kembali literatur yang sudah lama ditinggalkan. Itu mengapa salah satu ciri khas dari masa renaissance ini adalah banyaknya karya-karya sastra yang menggambarkan keindahan, khayalan dan kemakmuran, karena tujuan dari Renaissance adalah agar orang mempunyai keinginan untuk menulis dan membaca dengan menyampingkan logika.

Kata ‘Renaissance‘ berasal dari bahasa Perancis yang mempunyai arti ‘lahir kembali‘ atau Wiedergeburt. Renaissance merupakan kembalinya masa Antik atau Antike Zeit—dengan kata lain kembalinya masa Romawi dan Yunani, yang sudah sangat maju di masanya—dengan pengembangan dan perbaikan. Periode Renaissance adalah sejak abad ke-15 hingga abad ke-16. Renaissance terjadi pertamakali di Florenz, Italia.

Latar belakang dari Renaissance:

  • Pada masa sebelum Renaissance, orang-orang menderita penyakit, hukuman penjara seumur hidup, perang dan merasa terisolasi.
  • Keinginan untuk menghidupkan kembali masa Antik.
  • Pengetahuan dan budaya Romawi dan Yunani yang sangat maju dengan berbagai penemuan dan ide di masa Antik, terlupakan.
  • Perbaikan dari masa Antik terhadap literatur di Eropa.
  • Orang-orang mempunyai keinginan kuat untuk menjelajah dengan banyak tujuan diantaranya: menemukan negara baru, mencari pengalaman dan menambah pengetahuan.

Ciri-ciri masa Antik (Antike Zeit)

  • Kata ‘Antike‘ dikenal pada masa Romawi dan Yunani pada abad ke-2 sebelum masehi sampai sekitar abad ke-4 atau ke-6 masehi
  • Ciri khas literatur pada masa renaissance yang sampai sekarang masih digunakan yakni (die drei literarischen Hauptgattungen): Drama, Puisi dan Prosa.
  • Literatur berperan sebagai pengingat dalam bersikap (norma dan etnik)
  • Tuhan berada diposisi sentral dalam hal hubungan antara Tuhan dan manusia.
  • Karya literatur terbesar pada masa Antik adalah kisah „Ilias“ dan “Odyssee” (sekitar akhir abad ke-5 atau awal abad ke-6).

Ciri-ciri Renaissance (Literatur)

  • Tingginya daya khayal dan fantasi
  • Ciri literatur pada masa Antik dignakan kembali. Seperti Drama, termasuk lirik dan epik. Karya-karya drama menitikberatkan terhadap kebebasan dan hak asasi manusia.
  • Dalam epik terdapat buku cerita rakyat yang bercerita tentang sejarah, legenda dan petualangan. Selain itu terdapat banyak kisah mengenai kritik terhadap gereja.
  • Dalam lirik, pujian terhadap gereja dibuat menjadi lagu sehingga menjadi populer dan lebih menarik.
  • Banyak cerita yang mengisahkan orang-orang malas dan jahat mendapatkan keberuntungan. Hal ini merupakan kritik tersirat terhadap pemerintahan dan keadilan.

Karya terkenal pada masa Renaissance:

  • Hans Sachs (1494–1576): Das Schlaraffenland (1567)
  • Christopher Marlowe (1564–1593): Doktor Faustus (1589/1593)

 

(penulis merupakan mahasiswa Prodi Bahasa Jerman Universitas Negeri Jakarta angkatan 2014)

Richi Si Tajir

Brug. Aku meletakkan koper 20 kilogramku disudut Betreuerzimer di Jugendherberge di Frankfurt. Lelah dan jetlag seketika luruh dari tubuhku. Jerman! Betapa indahnya kenyataanku, seindah mimpiku, bahkan lebih indah. Wie schön!

Mengapa jauh-jauh ke Jerman? Jadi, berawal dari aku mendapat beasiswa dari Goethe Institut dan mengikuti Winterjugendkurs selama tiga minggu di Jerman. Aku berkenalan dengan 51 kawan, 11 diantaranya orang Indonesia. Kami berasal dari sembilan negara. Indonesia, Argentina, Peru, Panama, Bolivia, Australia, New Zealand, Brasil dan Colombia.

Anak-anak Indonesia terkenal yang paling berisik. Ya, itu memang benar. Kami bukan saja berisik, tapi membuat nama-nama samaran untuk hampir semua orang, agar acara menggosip semakin mantap.

Pengurus-pengurus asrama kami, kami beri nama samaran. Ada yang bernama Richi, dan namanya kami ubah menjadi Tajir. Ada yang bernama Susa, kami ganti namanya menjadi Gampang. Benjamin menjadi Banteng. Begitu juga teman-teman sesama Jugendkurs kami beri nama samaran. Ada anak Brasil, namanya Jaqueline, dan karena Dimas  menyukainya, maka nama samarannya menjadi The Best dan di singkat menjadi Debes. Ada juga teman saya Louis dari Bolivia, dia kalau makan selalu berantakan, maka kami memanggilnya Si Mulut Berantakan. Lalu ada juga Celio, dia sering memakai baju berwarna hijau dan bersuara ngebass, maka kami memanggilnya Buto Ijo.

Hampir sepanjang waktu kami selalu membicarakan orang-orang (kalian jangan ya? jangan ragu-ragu maksudnya hihi) lalu menertawakan tingkah aneh para bule. Misalnya ada yang ganteng tapi jarang mandi, ada teman saya Conor, dari Australia. Dia ketinggalan pesawat, dan akhirnya membeli sendiri tiket pesawat Australia-Frankfurt.

Ada juga pengurus asrama kami yang sudah nenek-nenek bernama Steffi. Nama samarannya: Nenek. Lalu bule-bule itu memanggilnya hanya dengan sebutan nama.

“Steffiii! Kannst du bitte ein Foto machen? Bisa tolong ambilkan foto?“ ujar Norbert mahasiswa Jerman yang sedang liburan musim dingin, dan kini menjadi pengurus asrama kami selama 3 minggu, anak-anak Argentina ingin berfoto dengan Norbert.

“Gila, nenek-nenek dipanggil namanya doang!“ ujar saya ketika sedang berjalan-jalan melewati sungai Main. Nenek menjadi pendamping kami malam itu.

“Iya, aneh ya.“ Zia, anak Indonesia menimpali sambil melirik kearah Nenek.

Nenek yang bejarak tak lebih dari dua meter dari kami menghadap ke arah kami dan berteriak: “Schnell! Cepat!”

“Ih meskipun nenek-nenek, dia cepet banget jalannya!“ saya berkomentar lagi.

“Kita yang masih muda aja kalah cepet! Ayo ayo!“ ajak Indra.

Anak-anak Indonesia tak pernah kehabisan topik membicarakan siapa saja. Maka ketika ada waktu luang seperti internetan atau melukis, kamilah yang paling suka ngoceh dengan bahasa Indonesia tentunya.

“Liat deh, itu si Debes melukis warnanya kelam banget, kayak enggak ada semangat hidup.” Cintia mengomentari. Saya melirik lukisan Debes dengan ekor mata.

“Iya, enggak kayak gua, rainbow.” Ujar Dimas.

“Kata  lo ‘The Best’ Dim.” Karima mengejek.

“Iyaa, meskipun lukisannya enggak berwarna, tetep aja menurut gue yang paling bagus.” Sangkal Dimas.

Saya pun menyiprati Dimas dengan kuas yang habis di bersihkan. Saya dan sebagian besar peserta perempuan lainnya sangat menyukai Benjamin/Banteng. Pria Jerman yang tinggi, berambut pirang, bermata biru-keperakan, ada lesung pipitnya kalau tersenyum. Pokoknya cocok banget deh jadi model Burberry.

Dan tibalah saatnya kami bermain bowling. Untuk menuju termpat bermain bowling, kami harus berjalan kaki terlebih dahulu. Jarak yang ditempuh dari asrama menuju tempat bowling sekitar 500 meter.

Saya dan Zia berada persis dibelakang Benjamin. Kali ini Benjamin menjadi pendamping kami.

“Stop! Stop! Die Ampel ist Rot jetzt!“ Benjamin mengangkat kedua tangannya, berbalik ke arah kami, menyuruh kami berhenti karena lampu lalu lintas sedang berwarna merah.

“Ih bilang aja lo mau meluk gue kan.“ Zia memandang Ben dengan tatapan kagum.

“Iya, bilang aja dia mau ngeliat kita kan.“ Ujar Arin. Richi yang berjalan di dekat Ben, melirik ke arah kami secara diam-diam.

Keberisikan kami menurun drastis ketika di minggu kedua, Richi bilang kepada kami bahwa dia bisa berbahasa Indonesia, kami semua langsung kicep! Tak bisa berkata-kata. Betapa gawatnya kalau dia tahu bahwa kami suka membicarakan banyak orang!

Maka setelah itu, kami tidak lagi membicarakan orang dengan terang-terangan. Kami berbisik-bisik dengan intonasi cepat yang dibuat-buat, supaya Richi tak bisa menebak apa yang kami sedang bicarakan. Kami berbicara pelan-pelan saat mengantri makan, saat menuju kelas, maupun saat di Trem. Kalau Richi berada di dekat kami, kami langsung diam dan tersenyum tak enak. Kami langsung mengubah topik pembicaraan menjadi topik yang netral. Misalnya, sedih karena seminggu lagi kami harus meninggalkan Frankfurt, betapa indah pemandangan di luar sana, hari ini ingin beli oleh-oleh apa, dan hal-hal netral lainnya.

Lalu, tibalah Abschlussabend, pesta perpisahan. Karena esoknya para peserta Winterjugendkurs harus kembali ke tanah air masing-masing. Pada saat Abschlussabend berlangsung, kami disuruh menulis surat kepada orang-orang yang kami kehendaki. Saya menulis surat yang panjang dan lebar kepada Richi dalam bahasa Indonesia. Dan menaruh surat tersebut di amplop yang ada foto Richi-nya.

Esoknya, jam lima sore. Kami menangis dan memberikan pelukan perpisahan kepada orang-orang yang entah kapan bisa bertemu lagi. Lalu saya memeluk Richi, dan Richi berkata:

“Es tut mir leid, Sonia. Ich habe deinen Brief gelesen. Aber leider kann ich nicht Indonesisch sprechen.“ Aku minta maaf, Sonia. Aku sudah membaca suratmu. Tapi sayangnya aku tidak bisa berbahasa Indonesia.

“Was?! Richi! Du lügst. Apa?! Jadi kamu bohong, Richi?“

“Ja. Weil ihr so laut seid. Deshalb habe ich das gesagt.“ Karena kalian orang Indonesia sangat berisik. Maka saya bilang begitu supaya kalian tidak terlalu banyak berbicara.

Teman Indonesia saya, Yuli yang mendengar percakapan saya dan Richi memukul lengan Richi, Richi terkekeh kekeh tanpa dosa.